Aksi Jalan Kaki dari Medan ke Sumbar, Bayu Bakal Ziarah ke Makam Syech Burhanudin.

Aksi Jalan Kaki dari Medan ke Sumbar, Bayu Bakal Ziarah ke Makam Syech Burhanudin.
Bayu Afriandi pejalan kaki dari Medan ke Sumbar melintasi jalan Nasional ruas Dumai - Bangkinang via Petapahan (Foto: Feri Maulana)

Kampar, AsiaPeristiwa.com  - Aksi eksream menempuh perjalanan panjang menghabiskan waktu sebulan lebih, menguras energi, menantang adrenalin. Bayu Afriandi, pemuda 30 tahun, berbadan ideal, berotot, bodi atletis. Pada bulan Ramadan dan tengah berpuasa, ia telah berjalan kaki sejauh 600 kilometer. Bayu warga Kota Dumai itu, menemluh perjalanan seribuan kilo, misinya untuk mengunjungi makam Syech Burhanudin di Ulakan, Padang Pariaman. Perjalanannya telah berlangsung selama 1 bulan lebih dimulai dari Medan, melintasi jalan Nasional, kini ia tiba di Bukit Payung Kabupaten Kampar, sekitar 15 kolometer menjelang Bangkinang Kota. 

Bayu dalam aksi berjalan kaki dari Medan menuju Sumbar itu, hanya terlihat menggunakan sendal jepit merek Swallow warna putih yang tampak usang, memakai celana panjang, Levis warna biru agak robek di bagian kedua lutut dan memakai kemeja lengan panjang plus mengenakan peci hitam. Menyandang tas bertuliskan "Marhaban Ya Ramadan, Medai-Dumai to Sumbar" di tasnya dipasang bendera merah putih dengan tiang satu hekta.  Tatkala AsiaPeristiwa.com menghampirinya, badan kekarnya tampak berkeringat namun penuh senyum saat diwawancarai. "Ini yang kedua jalan kaki lintas wilayah yang saya lakukan, rekan saya ada yang jalan kaki ke Mekah, saya hanya ke Sumbar untuk mencari keluarga baru, menjalin silaturahmi," katanya.

Tentang biaya selama perjalanannya yang akan ditempuh hampir seribu kilometer itu, ia mengaku hanya modal nekat dengan hanya membawa pakaian dalam sebuah tas sandang.

"Tadi saya istirahat di Masjid Raya di pasar dekat simpang Bukit Payung, tidur di Masjid dan makan sahur di sana. Soal makan Allah selalu memberi, ada-ada saja rezeki, alhamdulillah," katanya dengan raut penuh optimis dan ceria itu.

Rupanya, Bayu telah melakoni jalan kaki pertamanya ke Jakarta, berangkat dari Medan menghabiskan waktu 1 bulan pergi dan 1 bulan pulang, katanya. "Itu juga dengan modal nekat, tidak membawa bekal untuk selama di perjalanan, saya menyeberang Selat Sunda di kapal roro Merak-Bengkauheni  tidak bayar, hanya menumpang saja," katanya.

Pemuda lajang putra asli Melayu itu juga tidak membawa telpon seluler meski memiliki orang tua dan keluarga besar yang berdomisili di Dumai. Ia menyebutkan handphonenya hilang beberapa waktu lalu. Mengenai identitasnya, Bayu pun hanya membaya sebuah KTP. Dalam KTP asal Kota Dumai itu, pekerjaannya tercatat sebagai buruh harian. (APC-FM)

#Jalan kaki 1.000 kilometer