Jakarta, AsiaPeristiwa.com - Harga plastik di Indonesia naik drastis, kini telah melonjak 30 persen hingga 80 persen hingga April 2026. Tekanan ekonomi ini paling dirasakan pelaku UMKM sektor makanan dan minuman yang selama ini bergantung pada kemasan sekali pakai.
Menurut pakar ekonomi dari Universitas Airlangga (UNAIR), Atik Purmiyati, kenaikan signifikan ini dipicu oleh ketergantungan industri domestik terhadap bahan baku impor yang mencapai 60 persen.
Ketika konflik geopolitik global mengganggu rantai pasok dan memicu kenaikan harga minyak mentah dunia, harga plastik di tingkat pengrajin dan pedagang kecil pun langsung meroket tajam, bahkan dalam beberapa kasus mencapai kenaikan 100 persen.
Di sisi lain, ketergantungan pada plastik membawa beban ekologi yang luar biasa berat bagi planet ini. United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat bahwa setiap hari terdapat sampah plastik setara dengan 2.000 truk sampah yang dibuang ke laut, sungai, dan danau.
Secara global, sekitar 19 hingga 23 juta ton limbah plastik mencemari ekosistem perairan setiap tahunnya, yang pada akhirnya merusak kemampuan alam untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.
Di tengah himpitan biaya produksi yang kian mahal dan ancaman kerusakan lingkungan ini, mungkinkah kearifan lokal masyarakat Indonesia dalam mengemas makanan dapat menjadi solusi yang berkelanjutan? Apa saja alternatif kemasan alami yang sebenarnya sudah digunakan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita?
Menghidupkan Kembali Budaya Kemasan Alami
M Sri Wahyudi Suliswanto, pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menegaskan bahwa gejolak geopolitik dunia telah membuat harga domestik "tercekik" karena bahan baku plastik yang sangat bergantung pada jalur distribusi internasional.
Sebagai jalan keluar, Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan kemasan tradisional yang ramah lingkungan. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menekankan bahwa penggunaan bahan seperti bambu, daun, dan tanah liat tidak hanya mendukung keberlanjutan, tetapi juga menjaga nilai estetika dan kearifan lokal.
Besek, misalnya, merupakan anyaman bambu yang memiliki sirkulasi udara baik sehingga makanan tidak cepat basi. Ada pula bongsang yang biasa digunakan untuk tahu Sumedang, serta kendil dari tanah liat yang dipercaya mampu meningkatkan cita rasa makanan seperti gudeg.
Pelaku UMKM di Bangkinang, Amel, Rabu (15/4/2026) mengeluhkan kenaikan harga kemasan berbahan plastik. Namun meski kemasan kuliner untuk dagangan es telernya tersebut naik signifikan, harga jual es teler masih bertahan dengan harga lama. "Kita mensiasati mencari kantong, pipet, cup dan sendok yang berbahan plastik ini ke toko yang masih menjual dengan stok lama, dan masih harga lama. Untuk beberapa waktu kedepan stok kemasan kita sudah aman.
Memang kebanyakan toko sudah menjual dengan harga baru yang kenaikan harganya lumayan tinggi dari harga biasa, sedangkan harga bahan baku lainnya, saat ini juga mengalami kenaikan namun tidak terlalu tinggi, kebanyakan pedagang lain sudah menaaikan harga es telernya, naik 2 ribu rupiah per porsi" ujarnya. (APC-FM)
#plastik